Senin, 08 Maret 2010

BANJIR

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada bapak Sangsang Sangabakti yang membimbing saya pada matakuliah Bahasa Indonesia, dan juga tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang juga turut serta dalam menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu dan atas kerjasamanya yang sangat baik. Sehingga makalah ini dapat selesai dengan tepat.
Akhir kata saya ucapkan terimakasih kepada semua atas kerjasamanya, dan apabila ada kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini, saya sangat berterimakasih, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.










Daftar Isi

Kata Pengantar 1
Daftar Isi 2
Bab 1
Pendahuluan 3
1.1 Latar Balakang Masalah
1.2 Identifikasi Masalah 3
1.3 Pembahasan Masalah 4
1.4 Tujuan 4
1.5 Manfaat 4
BAB II
Pembahasan 5
BAB III
Penutup 10
Daftar Pustaka 11




BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang.
Banjir Jakarta 2007 adalah bencana banjir yang menghantam Jakarta dan sekitarnya sejak 1 Februari 2007 malam hari. Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari, ditambah banyaknya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang berasal dari Bogor-Puncak-Cianjur, dan air laut yang sedang pasang, mengakibatkan hampir 60% wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan kedalaman mencapai hingga 5 meter di beberapa titik lokasi banjir.
Pantauan di 11 pos pengamatan hujan milik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menunjukkan, hujan yang terjadi pada Jumat, 2 Februari, malam lalu mencapai rata-rata 235 mm, bahkan tertinggi di stasiun pengamat Pondok Betung mencapai 340 mm. Hujan rata-rata di Jakarta yang mencapai 235 mm itu sebanding dengan periode ulang hujan 100 tahun dengan probabilitas kejadiannya 20 persen.
Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit. Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007.

1.2 Identifikasi Masalah
Banjir di Jakarta merupakan fenomena yang setiap tahun terjadi. Banjir di Jakarta diperkirakan makin besar karena berbarengan dengan dengan datangnya banjir air pasang laut atau ROB.




1.3 Pembahasan Masalah
• Banjir dapat disebut dengan air bah. Banjir ialah suatu bencana air hujan yang menutupi daratan.
• Banjir juga bisa disebabkan oleh hujan muson terutama kawasan – kawasan yang terletak di daerah khatulistiwa.
• Dan badai juga bisa menyebabkan banjir melalui beberapa cara yaitu ombak besar yang tinggi nya mencapai 8 meter.
• Tsunami juga menyebabkan banjir pada daerah pesisir pantai,, gempa bumi dasar laut maupun letusan gunung berapi yang membuat kawah dapat memicu terjadinya tsunami.

1.4 Tujuan
Tujuan umum:
Agar masyarakat yang bertempat tinggal di daerah rawan banjir dapat mengantisipasi terjadinya banjir.
Tujuan khusus:
• Memberitahu kepada masyarakat tentang factor penyebab banjir
• Memberitahu kepada masyarakat tentang dampak dari banjir
• Memberitahu kepada masyarakat tentang cara penanggulangannya.
• Memberitahu kepada masyarakat tentang tips- tips menghadapi banjir.

1.5 Manfaat
Agar para pembaca dapat mengetahui penybab, antisipasi, dampak dan kerugian, dan pasca setelah bajir



BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian
Banjir adalah peristiwa tergenangnya daratan (yang biasa kering) karena volume air yang meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat karena hujan besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai.
Jakarta pada dasarnya memang rentan pada ancaman banjir, selain berlokasi di daerah datarn rendah bahkan sebagian lebih rendah dari permukaan laut, Jakrta juga di lewati 13 sungai yang semua bermuara di teluk Jakarta.
Faktor tinnginya curah huajn juga punya andil besar pda terjadinya banjir di Jakarta dan kawasan di sekitarnya. Resiko banjir semakin tinggi karena ketidakdisiplinan pemerintah dan warga dalam memelihara lingkungan. Pelanggaran tata ruang langsung atau tidak langsug ikut pula member sumbangan pada terjadinya banjir di Jakarta.
2. Penyebab
Banjir Jakarta 2007 merupakan salah satu contoh banjir yang besar di Indonesia. Penyebabnya adalah curah hujan yang tinggi, dan musim hujan di Indonesia mulai bulan Desember hingga akhir Maret. Intensitas hujan 2007 mencapai puncaknya pada bulan Februari, danintensitas terbesar pada akhir bulan.
3. Antisipasi
Untuk mencegah terjadinya banjir di Jakarta, pemerintah Jakarta telah membangun serangkaian system pengendali banjir Jakrta. . Berikut adalah Sistem Kawasan Pengendali Banjir dan Drainase Jakarta sampai 2010
Jakarta Utara
• Sunter Timur I
• Sunter Timur II
• Kelapa Gading
• Sunter Barat
• Sunter Selatan
• Pademangan
• Jembatan V
• Teluk Gong
• Angka Bawah
Jakarta Barat
• Jelambar
• Grogol
• Pinangsia
• Jati Pulo
• Kali Sekretaris
• S.P.Barat Jakarta Pusat
• Sawah Besar
• Sumur Batu
• Cideng Bawah
Jakarta Selatan
• Kali Grogol Atas
• Duren Tiga
• Pondok Karya
• Sangrila
Jakarta Timur
• Duren Sawit
• Cipinang Sistem Saluran Makro (13 sungai)
1. Kali Mookevart
2. Kali Angke
3. Kali Pesanggrahan
4. Kali Grogol
5. Kali Krukut
6. Kali Baru (Pasar Minggu)
7. Kali Ciliwung
8. Kali Baru Timur
9. Kali Cipinang
10. Kali Sunter
11. Kali Buara
12. Kali Jati Kramat
13. Kali Cakung
Banjir Kanal
1. Banjir Kanal Barat
2. Banjir Kanal Timur


4. Lokasi – Lokasi Banjir di Jakarta
• Jakrta Utara : Daerah Kelapa Gading, Penjaringan, Tanjung Priuk, Cilincing, dan Pademangan tingginya kira – kira mencapai 0,5 meter – 1,64 meter.
• Jakarta Timur : Jatinegara, Kramat Jati, Cakung, Duren Sawit, Pulo Gadung, Makasar, Matraman, Cipayung yang mencapai ketinggian kira – kira 0,2 meter – 2,5 meter
• Jakarta Barat : Kali Deres, Cengkareng, Kebun Jeruk, Taman Sari yang mencapai ketinngian 0,1 meter – 1 meter.
• Jakarta Selatan : Kebayoran Lama, Pesanggrahan, Bukit Duri, Kebayoran Baru, ketinngian mencapai 30 cm – 2,5 meter.
• Jakarta Pusat : Tanah Abang, Sawah Besar yang mencapai ketinggian 0,25 meter – 1,2 meter.


5. Korban
Hingga tanggal 8 Februari 2007, korban yang meninggal mencapai 55 orang. Pada tanggal 9 Februari korban yang meninggal meningkat mencapai 66 orang, dan pada tanggal 10 February korban semakin meningkat mencapia 80 orang. Jumlah ini mencangkup korban di tiga propinsi dengan perincian, Jakrta 48 Orang, Jawa Barat 19 Orang, dan Banten 13 orang.

6. Dampak dan Kerugian
Puluhan ribu warga di Jakarta dan daerah sekitarnya terpaksa mengungsi di posko-posko terdekat. Sebagian lainnya hingga Jumat malam masih terjebak di dalam rumah yang sekelilingnya digenangi air hingga 2-3 meter. Mereka tidak bisa keluar untuk menyelamatkan diri karena perahu tim penolong tidak kunjung datang.
Di dalam kota, kemacetan terjadi di banyak lokasi, termasuk di Jalan Tol Dalam Kota. Genangan-genangan air di jalan hingga semeter lebih juga menyebabkan sejumlah akses dari daerah sekitar pun terganggu.
Arus banjir menggerus jalan-jalan di Jakarta dan menyebabkan berbagai kerusakan yang memperparah kemacetan. Diperkirakan sebanyak 82.150 meter persegi jalan di seluruh Jakarta rusak ringan sampai berat. Kerusakan beragam, mulai dari lubang kecil dan pengelupasan aspal sampai lubang-lubang yang cukup dalam. Kerusakan yang paling parah terjadi di Jakarta Barat, tempat jalan rusak mencapai 22.650 m², disusul Jakarta Utara (22.520 m²), Jakarta Pusat (16.670 m²), Jakarta Timur (11.090 m²). Kerusakan jalan paling ringan dialami Jakarta Timur, yang hanya menderita jalan rusak seluas 9.220 m². Untuk merehabilitasi jalan diperkirakan diperlukan dana sebesar Rp. 12 miliar.
Banjir juga membuat sebagian jalur kereta api lumpuh. Lintasan kereta api yang menuju Stasiun Tanah Abang tidak berfungsi karena jalur rel di sekitar stasiun itu digenangi air luapan Sungai Ciliwung sekitar 50 sentimeter.
Sekitar 1.500 rumah di Jakarta Timur hanyut dan rusak akibat banjir. Kerusakan terparah terdapat di Kecamatan Jatinegara dan Cakung. Rumah-rumah yang hanyut terdapat di Kampung Melayu (72 rumah), Bidaracina (5), Bale Kambang (15), Cawang (14), dan Cililitan (5). Adapun rumah yang rusak terdapat di Pasar Rebo (14), Makasar (49), Kampung Melayu (681), Bidaracina (16), Cipinang Besar Selatan (50), Cipinang Besar Utara (3), Bale Kambang (42), Cawang (51), Cililitan (10), dan Cakung (485).
Kerugian di Kabupaten Bekasi diperkirakan bernilai sekitar Rp 551 miliar. Kerugian terbesar adalah kerusakan bangunan, baik rumah penduduk maupun kantor-kantor pemerintah. Selain itu jalan kabupaten sepanjang 98 kilometer turut rusak. Sedikitnya 7.400 hektar sawah terancam puso.
7. Penyakit
Setelah banjir penyakit infeksi saluran pernafasan, diare, dan penyakit kulit menjangkiti warga Jakarta, terutama yang berada di pengungsian. Ini disebabkan keadaan sanitasi dan cuaca yang buruk
Ditemui pula beberapa kasus demam berdarah dan leptospirosis Sebagai akibat genangan air setelah banjir.

8. Pasca Banjir
Hingga hampir sepekan pascabanjir, 14 Februari 2007, 20 lampu lalu lintas di seluruh DKI Jakarta masih tidak berfungsi. Matinya lampu lalu lintas menyebabkan arus kendaraan di beberapa kawasan terganggu dan menimbulkan kemacetan. Di Jakarta Pusat lalu lintas di beberapa perempatan tidak dipandu lampu lalu lintas. Di kawasan Roxy, misalnya, lampu lalu lintas tidak berfungsi. Akibatnya, kemacetan terjadi sepanjang pagi hingga menjelang sore. Situasi serupa tampak di kawasan Kramat Bunder.

9. Banjir Susulan
Hujan deras sejak Selasa pagi, 13 Februari, di Depok dan sebagian wilayah Jakarta Selatan menyebabkan air kembali menggenangi sebagian rumah-rumah warga yang baru saja kering dari terpaan banjir pekan sebelumnya. Hujan tersebut menyebabkan Kali Krukut yang melintasi kawasan Kemang dan Petogogan, Jakarta Selatan meluap.
Luapan itu meluas dan menggenangi rumah-rumah warga di perkampungan tersebut hingga sebatas lutut orang dewasa. Kontur tanah perkampungan yang menjorok rendah ke arah sungai menyebabkan wilayah itu mudah sekali terbanjiri luapan air dari sungai. Di kawasan Kemang, tepatnya di Kelurahan Bangka, air menggenangi sekitar seratusan rumah petak di belakang deretan kafe-kafe elit di Jalan Kemang Raya. Semakin mendekati Kali Krukut, air sudah memasuki bagian dalam rumah hingga sebetis. Banjir besar pekan lalu telah menerpa kampung tersebut hingga ketinggian dua meter.
Banjir serupa juga kembali menimpa warga Perumahan Pondok Payung Mas, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat, Tangerang, Banten.
Hujan yang turun pada hari Sabtu 17 Februari menyebabkan sebanyak 2.761 warga Jakarta dari 612 kepala keluarga (KK), terpaksa mengungsi kembali karena rumah mereka tergenang air. Genangan ini terjadi di beberapa pemukiman di Pancoran, Kebayoran Baru, Jatinegara, dan Kramat Jati. Ketinggian genangan berkisar antara 40-120 cm.

10. Cara Mencegah Banjir:
• Tidak membuang sampah di sungai.
• Menghentikan penggundulan hutan.
• Melakukan penanaman.
• Membangun sumur/kolam peresapan.
• Menjaga paling sedikit 70 % kawasan pegunungan tertutup.

11. Tips Menghadapi Banjir :
• Selalu siap persediaan makanan cadangan di rumah .
• Setidaknya, bangunlah rumah yang terdiri dari 2 lantai .
• Pindahlah dari daerah pemukiman yang memang rawan banjir
• Siapkan selalu alat transportasi seperti perahu karet .







BAB III
Penutup
Kesimpulan
• Banjir ialah peristiwa tergenagnya daratan karena volume air yang meningkat.
• Banjir Jakarta disebabkan oleh hujan yang tinggi, dan musim hujan di Indonesia
• Penyebab banjir karena aktifitas manusia yang merusak alam dan curah hujan yang terus menerus
• Kerugian banjir merugikan manusia dan hewan.
• Cara mencegah banjir termasuk kesadaran manusia.













Daftar pustaka
http://afrahda.blogspot.com/2007/09/banjir.html
Maryono A. 2005. Menangani Banjir, Kekeringan, dan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
http://id. Wikipedia.org//wiki/Banjir_jakarta_2007/#Referensi














KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada bapak Sangsang Sangabakti yang membimbing saya pada matakuliah Bahasa Indonesia, dan juga tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang juga turut serta dalam menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu dan atas kerjasamanya yang sangat baik. Sehingga makalah ini dapat selesai dengan tepat.
Akhir kata saya ucapkan terimakasih kepada semua atas kerjasamanya, dan apabila ada kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini, saya sangat berterimakasih, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.










Daftar Isi

Kata Pengantar 1
Daftar Isi 2
Bab 1
Pendahuluan 3
1.1 Latar Balakang Masalah
1.2 Identifikasi Masalah 3
1.3 Pembahasan Masalah 4
1.4 Tujuan 4
1.5 Manfaat 4
BAB II
Pembahasan 5
BAB III
Penutup 10
Daftar Pustaka 11




BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang.
Banjir Jakarta 2007 adalah bencana banjir yang menghantam Jakarta dan sekitarnya sejak 1 Februari 2007 malam hari. Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari, ditambah banyaknya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang berasal dari Bogor-Puncak-Cianjur, dan air laut yang sedang pasang, mengakibatkan hampir 60% wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan kedalaman mencapai hingga 5 meter di beberapa titik lokasi banjir.
Pantauan di 11 pos pengamatan hujan milik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menunjukkan, hujan yang terjadi pada Jumat, 2 Februari, malam lalu mencapai rata-rata 235 mm, bahkan tertinggi di stasiun pengamat Pondok Betung mencapai 340 mm. Hujan rata-rata di Jakarta yang mencapai 235 mm itu sebanding dengan periode ulang hujan 100 tahun dengan probabilitas kejadiannya 20 persen.
Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit. Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007.

1.2 Identifikasi Masalah
Banjir di Jakarta merupakan fenomena yang setiap tahun terjadi. Banjir di Jakarta diperkirakan makin besar karena berbarengan dengan dengan datangnya banjir air pasang laut atau ROB.




1.3 Pembahasan Masalah
• Banjir dapat disebut dengan air bah. Banjir ialah suatu bencana air hujan yang menutupi daratan.
• Banjir juga bisa disebabkan oleh hujan muson terutama kawasan – kawasan yang terletak di daerah khatulistiwa.
• Dan badai juga bisa menyebabkan banjir melalui beberapa cara yaitu ombak besar yang tinggi nya mencapai 8 meter.
• Tsunami juga menyebabkan banjir pada daerah pesisir pantai,, gempa bumi dasar laut maupun letusan gunung berapi yang membuat kawah dapat memicu terjadinya tsunami.

1.4 Tujuan
Tujuan umum:
Agar masyarakat yang bertempat tinggal di daerah rawan banjir dapat mengantisipasi terjadinya banjir.
Tujuan khusus:
• Memberitahu kepada masyarakat tentang factor penyebab banjir
• Memberitahu kepada masyarakat tentang dampak dari banjir
• Memberitahu kepada masyarakat tentang cara penanggulangannya.
• Memberitahu kepada masyarakat tentang tips- tips menghadapi banjir.

1.5 Manfaat
Agar para pembaca dapat mengetahui penybab, antisipasi, dampak dan kerugian, dan pasca setelah bajir



BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian
Banjir adalah peristiwa tergenangnya daratan (yang biasa kering) karena volume air yang meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat karena hujan besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai.
Jakarta pada dasarnya memang rentan pada ancaman banjir, selain berlokasi di daerah datarn rendah bahkan sebagian lebih rendah dari permukaan laut, Jakrta juga di lewati 13 sungai yang semua bermuara di teluk Jakarta.
Faktor tinnginya curah huajn juga punya andil besar pda terjadinya banjir di Jakarta dan kawasan di sekitarnya. Resiko banjir semakin tinggi karena ketidakdisiplinan pemerintah dan warga dalam memelihara lingkungan. Pelanggaran tata ruang langsung atau tidak langsug ikut pula member sumbangan pada terjadinya banjir di Jakarta.
2. Penyebab
Banjir Jakarta 2007 merupakan salah satu contoh banjir yang besar di Indonesia. Penyebabnya adalah curah hujan yang tinggi, dan musim hujan di Indonesia mulai bulan Desember hingga akhir Maret. Intensitas hujan 2007 mencapai puncaknya pada bulan Februari, danintensitas terbesar pada akhir bulan.
3. Antisipasi
Untuk mencegah terjadinya banjir di Jakarta, pemerintah Jakarta telah membangun serangkaian system pengendali banjir Jakrta. . Berikut adalah Sistem Kawasan Pengendali Banjir dan Drainase Jakarta sampai 2010
Jakarta Utara
• Sunter Timur I
• Sunter Timur II
• Kelapa Gading
• Sunter Barat
• Sunter Selatan
• Pademangan
• Jembatan V
• Teluk Gong
• Angka Bawah
Jakarta Barat
• Jelambar
• Grogol
• Pinangsia
• Jati Pulo
• Kali Sekretaris
• S.P.Barat Jakarta Pusat
• Sawah Besar
• Sumur Batu
• Cideng Bawah
Jakarta Selatan
• Kali Grogol Atas
• Duren Tiga
• Pondok Karya
• Sangrila
Jakarta Timur
• Duren Sawit
• Cipinang Sistem Saluran Makro (13 sungai)
1. Kali Mookevart
2. Kali Angke
3. Kali Pesanggrahan
4. Kali Grogol
5. Kali Krukut
6. Kali Baru (Pasar Minggu)
7. Kali Ciliwung
8. Kali Baru Timur
9. Kali Cipinang
10. Kali Sunter
11. Kali Buara
12. Kali Jati Kramat
13. Kali Cakung
Banjir Kanal
1. Banjir Kanal Barat
2. Banjir Kanal Timur


4. Lokasi – Lokasi Banjir di Jakarta
• Jakrta Utara : Daerah Kelapa Gading, Penjaringan, Tanjung Priuk, Cilincing, dan Pademangan tingginya kira – kira mencapai 0,5 meter – 1,64 meter.
• Jakarta Timur : Jatinegara, Kramat Jati, Cakung, Duren Sawit, Pulo Gadung, Makasar, Matraman, Cipayung yang mencapai ketinggian kira – kira 0,2 meter – 2,5 meter
• Jakarta Barat : Kali Deres, Cengkareng, Kebun Jeruk, Taman Sari yang mencapai ketinngian 0,1 meter – 1 meter.
• Jakarta Selatan : Kebayoran Lama, Pesanggrahan, Bukit Duri, Kebayoran Baru, ketinngian mencapai 30 cm – 2,5 meter.
• Jakarta Pusat : Tanah Abang, Sawah Besar yang mencapai ketinggian 0,25 meter – 1,2 meter.


5. Korban
Hingga tanggal 8 Februari 2007, korban yang meninggal mencapai 55 orang. Pada tanggal 9 Februari korban yang meninggal meningkat mencapai 66 orang, dan pada tanggal 10 February korban semakin meningkat mencapia 80 orang. Jumlah ini mencangkup korban di tiga propinsi dengan perincian, Jakrta 48 Orang, Jawa Barat 19 Orang, dan Banten 13 orang.

6. Dampak dan Kerugian
Puluhan ribu warga di Jakarta dan daerah sekitarnya terpaksa mengungsi di posko-posko terdekat. Sebagian lainnya hingga Jumat malam masih terjebak di dalam rumah yang sekelilingnya digenangi air hingga 2-3 meter. Mereka tidak bisa keluar untuk menyelamatkan diri karena perahu tim penolong tidak kunjung datang.
Di dalam kota, kemacetan terjadi di banyak lokasi, termasuk di Jalan Tol Dalam Kota. Genangan-genangan air di jalan hingga semeter lebih juga menyebabkan sejumlah akses dari daerah sekitar pun terganggu.
Arus banjir menggerus jalan-jalan di Jakarta dan menyebabkan berbagai kerusakan yang memperparah kemacetan. Diperkirakan sebanyak 82.150 meter persegi jalan di seluruh Jakarta rusak ringan sampai berat. Kerusakan beragam, mulai dari lubang kecil dan pengelupasan aspal sampai lubang-lubang yang cukup dalam. Kerusakan yang paling parah terjadi di Jakarta Barat, tempat jalan rusak mencapai 22.650 m², disusul Jakarta Utara (22.520 m²), Jakarta Pusat (16.670 m²), Jakarta Timur (11.090 m²). Kerusakan jalan paling ringan dialami Jakarta Timur, yang hanya menderita jalan rusak seluas 9.220 m². Untuk merehabilitasi jalan diperkirakan diperlukan dana sebesar Rp. 12 miliar.
Banjir juga membuat sebagian jalur kereta api lumpuh. Lintasan kereta api yang menuju Stasiun Tanah Abang tidak berfungsi karena jalur rel di sekitar stasiun itu digenangi air luapan Sungai Ciliwung sekitar 50 sentimeter.
Sekitar 1.500 rumah di Jakarta Timur hanyut dan rusak akibat banjir. Kerusakan terparah terdapat di Kecamatan Jatinegara dan Cakung. Rumah-rumah yang hanyut terdapat di Kampung Melayu (72 rumah), Bidaracina (5), Bale Kambang (15), Cawang (14), dan Cililitan (5). Adapun rumah yang rusak terdapat di Pasar Rebo (14), Makasar (49), Kampung Melayu (681), Bidaracina (16), Cipinang Besar Selatan (50), Cipinang Besar Utara (3), Bale Kambang (42), Cawang (51), Cililitan (10), dan Cakung (485).
Kerugian di Kabupaten Bekasi diperkirakan bernilai sekitar Rp 551 miliar. Kerugian terbesar adalah kerusakan bangunan, baik rumah penduduk maupun kantor-kantor pemerintah. Selain itu jalan kabupaten sepanjang 98 kilometer turut rusak. Sedikitnya 7.400 hektar sawah terancam puso.
7. Penyakit
Setelah banjir penyakit infeksi saluran pernafasan, diare, dan penyakit kulit menjangkiti warga Jakarta, terutama yang berada di pengungsian. Ini disebabkan keadaan sanitasi dan cuaca yang buruk
Ditemui pula beberapa kasus demam berdarah dan leptospirosis Sebagai akibat genangan air setelah banjir.

8. Pasca Banjir
Hingga hampir sepekan pascabanjir, 14 Februari 2007, 20 lampu lalu lintas di seluruh DKI Jakarta masih tidak berfungsi. Matinya lampu lalu lintas menyebabkan arus kendaraan di beberapa kawasan terganggu dan menimbulkan kemacetan. Di Jakarta Pusat lalu lintas di beberapa perempatan tidak dipandu lampu lalu lintas. Di kawasan Roxy, misalnya, lampu lalu lintas tidak berfungsi. Akibatnya, kemacetan terjadi sepanjang pagi hingga menjelang sore. Situasi serupa tampak di kawasan Kramat Bunder.

9. Banjir Susulan
Hujan deras sejak Selasa pagi, 13 Februari, di Depok dan sebagian wilayah Jakarta Selatan menyebabkan air kembali menggenangi sebagian rumah-rumah warga yang baru saja kering dari terpaan banjir pekan sebelumnya. Hujan tersebut menyebabkan Kali Krukut yang melintasi kawasan Kemang dan Petogogan, Jakarta Selatan meluap.
Luapan itu meluas dan menggenangi rumah-rumah warga di perkampungan tersebut hingga sebatas lutut orang dewasa. Kontur tanah perkampungan yang menjorok rendah ke arah sungai menyebabkan wilayah itu mudah sekali terbanjiri luapan air dari sungai. Di kawasan Kemang, tepatnya di Kelurahan Bangka, air menggenangi sekitar seratusan rumah petak di belakang deretan kafe-kafe elit di Jalan Kemang Raya. Semakin mendekati Kali Krukut, air sudah memasuki bagian dalam rumah hingga sebetis. Banjir besar pekan lalu telah menerpa kampung tersebut hingga ketinggian dua meter.
Banjir serupa juga kembali menimpa warga Perumahan Pondok Payung Mas, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat, Tangerang, Banten.
Hujan yang turun pada hari Sabtu 17 Februari menyebabkan sebanyak 2.761 warga Jakarta dari 612 kepala keluarga (KK), terpaksa mengungsi kembali karena rumah mereka tergenang air. Genangan ini terjadi di beberapa pemukiman di Pancoran, Kebayoran Baru, Jatinegara, dan Kramat Jati. Ketinggian genangan berkisar antara 40-120 cm.

10. Cara Mencegah Banjir:
• Tidak membuang sampah di sungai.
• Menghentikan penggundulan hutan.
• Melakukan penanaman.
• Membangun sumur/kolam peresapan.
• Menjaga paling sedikit 70 % kawasan pegunungan tertutup.

11. Tips Menghadapi Banjir :
• Selalu siap persediaan makanan cadangan di rumah .
• Setidaknya, bangunlah rumah yang terdiri dari 2 lantai .
• Pindahlah dari daerah pemukiman yang memang rawan banjir
• Siapkan selalu alat transportasi seperti perahu karet .







BAB III
Penutup
Kesimpulan
• Banjir ialah peristiwa tergenagnya daratan karena volume air yang meningkat.
• Banjir Jakarta disebabkan oleh hujan yang tinggi, dan musim hujan di Indonesia
• Penyebab banjir karena aktifitas manusia yang merusak alam dan curah hujan yang terus menerus
• Kerugian banjir merugikan manusia dan hewan.
• Cara mencegah banjir termasuk kesadaran manusia.













Daftar pustaka
http://afrahda.blogspot.com/2007/09/banjir.html
Maryono A. 2005. Menangani Banjir, Kekeringan, dan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
http://id. Wikipedia.org//wiki/Banjir_jakarta_2007/#Referensi


























KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada bapak Sangsang Sangabakti yang membimbing saya pada matakuliah Bahasa Indonesia, dan juga tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang juga turut serta dalam menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu dan atas kerjasamanya yang sangat baik. Sehingga makalah ini dapat selesai dengan tepat.
Akhir kata saya ucapkan terimakasih kepada semua atas kerjasamanya, dan apabila ada kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini, saya sangat berterimakasih, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.










Daftar Isi

Kata Pengantar 1
Daftar Isi 2
Bab 1
Pendahuluan 3
1.1 Latar Balakang Masalah
1.2 Identifikasi Masalah 3
1.3 Pembahasan Masalah 4
1.4 Tujuan 4
1.5 Manfaat 4
BAB II
Pembahasan 5
BAB III
Penutup 10
Daftar Pustaka 11




BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang.
Banjir Jakarta 2007 adalah bencana banjir yang menghantam Jakarta dan sekitarnya sejak 1 Februari 2007 malam hari. Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari, ditambah banyaknya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang berasal dari Bogor-Puncak-Cianjur, dan air laut yang sedang pasang, mengakibatkan hampir 60% wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan kedalaman mencapai hingga 5 meter di beberapa titik lokasi banjir.
Pantauan di 11 pos pengamatan hujan milik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menunjukkan, hujan yang terjadi pada Jumat, 2 Februari, malam lalu mencapai rata-rata 235 mm, bahkan tertinggi di stasiun pengamat Pondok Betung mencapai 340 mm. Hujan rata-rata di Jakarta yang mencapai 235 mm itu sebanding dengan periode ulang hujan 100 tahun dengan probabilitas kejadiannya 20 persen.
Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit. Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007.

1.2 Identifikasi Masalah
Banjir di Jakarta merupakan fenomena yang setiap tahun terjadi. Banjir di Jakarta diperkirakan makin besar karena berbarengan dengan dengan datangnya banjir air pasang laut atau ROB.




1.3 Pembahasan Masalah
• Banjir dapat disebut dengan air bah. Banjir ialah suatu bencana air hujan yang menutupi daratan.
• Banjir juga bisa disebabkan oleh hujan muson terutama kawasan – kawasan yang terletak di daerah khatulistiwa.
• Dan badai juga bisa menyebabkan banjir melalui beberapa cara yaitu ombak besar yang tinggi nya mencapai 8 meter.
• Tsunami juga menyebabkan banjir pada daerah pesisir pantai,, gempa bumi dasar laut maupun letusan gunung berapi yang membuat kawah dapat memicu terjadinya tsunami.

1.4 Tujuan
Tujuan umum:
Agar masyarakat yang bertempat tinggal di daerah rawan banjir dapat mengantisipasi terjadinya banjir.
Tujuan khusus:
• Memberitahu kepada masyarakat tentang factor penyebab banjir
• Memberitahu kepada masyarakat tentang dampak dari banjir
• Memberitahu kepada masyarakat tentang cara penanggulangannya.
• Memberitahu kepada masyarakat tentang tips- tips menghadapi banjir.

1.5 Manfaat
Agar para pembaca dapat mengetahui penybab, antisipasi, dampak dan kerugian, dan pasca setelah bajir



BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian
Banjir adalah peristiwa tergenangnya daratan (yang biasa kering) karena volume air yang meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat karena hujan besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai.
Jakarta pada dasarnya memang rentan pada ancaman banjir, selain berlokasi di daerah datarn rendah bahkan sebagian lebih rendah dari permukaan laut, Jakrta juga di lewati 13 sungai yang semua bermuara di teluk Jakarta.
Faktor tinnginya curah huajn juga punya andil besar pda terjadinya banjir di Jakarta dan kawasan di sekitarnya. Resiko banjir semakin tinggi karena ketidakdisiplinan pemerintah dan warga dalam memelihara lingkungan. Pelanggaran tata ruang langsung atau tidak langsug ikut pula member sumbangan pada terjadinya banjir di Jakarta.
2. Penyebab
Banjir Jakarta 2007 merupakan salah satu contoh banjir yang besar di Indonesia. Penyebabnya adalah curah hujan yang tinggi, dan musim hujan di Indonesia mulai bulan Desember hingga akhir Maret. Intensitas hujan 2007 mencapai puncaknya pada bulan Februari, danintensitas terbesar pada akhir bulan.
3. Antisipasi
Untuk mencegah terjadinya banjir di Jakarta, pemerintah Jakarta telah membangun serangkaian system pengendali banjir Jakrta. . Berikut adalah Sistem Kawasan Pengendali Banjir dan Drainase Jakarta sampai 2010
Jakarta Utara
• Sunter Timur I
• Sunter Timur II
• Kelapa Gading
• Sunter Barat
• Sunter Selatan
• Pademangan
• Jembatan V
• Teluk Gong
• Angka Bawah
Jakarta Barat
• Jelambar
• Grogol
• Pinangsia
• Jati Pulo
• Kali Sekretaris
• S.P.Barat Jakarta Pusat
• Sawah Besar
• Sumur Batu
• Cideng Bawah
Jakarta Selatan
• Kali Grogol Atas
• Duren Tiga
• Pondok Karya
• Sangrila
Jakarta Timur
• Duren Sawit
• Cipinang Sistem Saluran Makro (13 sungai)
1. Kali Mookevart
2. Kali Angke
3. Kali Pesanggrahan
4. Kali Grogol
5. Kali Krukut
6. Kali Baru (Pasar Minggu)
7. Kali Ciliwung
8. Kali Baru Timur
9. Kali Cipinang
10. Kali Sunter
11. Kali Buara
12. Kali Jati Kramat
13. Kali Cakung
Banjir Kanal
1. Banjir Kanal Barat
2. Banjir Kanal Timur


4. Lokasi – Lokasi Banjir di Jakarta
• Jakrta Utara : Daerah Kelapa Gading, Penjaringan, Tanjung Priuk, Cilincing, dan Pademangan tingginya kira – kira mencapai 0,5 meter – 1,64 meter.
• Jakarta Timur : Jatinegara, Kramat Jati, Cakung, Duren Sawit, Pulo Gadung, Makasar, Matraman, Cipayung yang mencapai ketinggian kira – kira 0,2 meter – 2,5 meter
• Jakarta Barat : Kali Deres, Cengkareng, Kebun Jeruk, Taman Sari yang mencapai ketinngian 0,1 meter – 1 meter.
• Jakarta Selatan : Kebayoran Lama, Pesanggrahan, Bukit Duri, Kebayoran Baru, ketinngian mencapai 30 cm – 2,5 meter.
• Jakarta Pusat : Tanah Abang, Sawah Besar yang mencapai ketinggian 0,25 meter – 1,2 meter.


5. Korban
Hingga tanggal 8 Februari 2007, korban yang meninggal mencapai 55 orang. Pada tanggal 9 Februari korban yang meninggal meningkat mencapai 66 orang, dan pada tanggal 10 February korban semakin meningkat mencapia 80 orang. Jumlah ini mencangkup korban di tiga propinsi dengan perincian, Jakrta 48 Orang, Jawa Barat 19 Orang, dan Banten 13 orang.

6. Dampak dan Kerugian
Puluhan ribu warga di Jakarta dan daerah sekitarnya terpaksa mengungsi di posko-posko terdekat. Sebagian lainnya hingga Jumat malam masih terjebak di dalam rumah yang sekelilingnya digenangi air hingga 2-3 meter. Mereka tidak bisa keluar untuk menyelamatkan diri karena perahu tim penolong tidak kunjung datang.
Di dalam kota, kemacetan terjadi di banyak lokasi, termasuk di Jalan Tol Dalam Kota. Genangan-genangan air di jalan hingga semeter lebih juga menyebabkan sejumlah akses dari daerah sekitar pun terganggu.
Arus banjir menggerus jalan-jalan di Jakarta dan menyebabkan berbagai kerusakan yang memperparah kemacetan. Diperkirakan sebanyak 82.150 meter persegi jalan di seluruh Jakarta rusak ringan sampai berat. Kerusakan beragam, mulai dari lubang kecil dan pengelupasan aspal sampai lubang-lubang yang cukup dalam. Kerusakan yang paling parah terjadi di Jakarta Barat, tempat jalan rusak mencapai 22.650 m², disusul Jakarta Utara (22.520 m²), Jakarta Pusat (16.670 m²), Jakarta Timur (11.090 m²). Kerusakan jalan paling ringan dialami Jakarta Timur, yang hanya menderita jalan rusak seluas 9.220 m². Untuk merehabilitasi jalan diperkirakan diperlukan dana sebesar Rp. 12 miliar.
Banjir juga membuat sebagian jalur kereta api lumpuh. Lintasan kereta api yang menuju Stasiun Tanah Abang tidak berfungsi karena jalur rel di sekitar stasiun itu digenangi air luapan Sungai Ciliwung sekitar 50 sentimeter.
Sekitar 1.500 rumah di Jakarta Timur hanyut dan rusak akibat banjir. Kerusakan terparah terdapat di Kecamatan Jatinegara dan Cakung. Rumah-rumah yang hanyut terdapat di Kampung Melayu (72 rumah), Bidaracina (5), Bale Kambang (15), Cawang (14), dan Cililitan (5). Adapun rumah yang rusak terdapat di Pasar Rebo (14), Makasar (49), Kampung Melayu (681), Bidaracina (16), Cipinang Besar Selatan (50), Cipinang Besar Utara (3), Bale Kambang (42), Cawang (51), Cililitan (10), dan Cakung (485).
Kerugian di Kabupaten Bekasi diperkirakan bernilai sekitar Rp 551 miliar. Kerugian terbesar adalah kerusakan bangunan, baik rumah penduduk maupun kantor-kantor pemerintah. Selain itu jalan kabupaten sepanjang 98 kilometer turut rusak. Sedikitnya 7.400 hektar sawah terancam puso.
7. Penyakit
Setelah banjir penyakit infeksi saluran pernafasan, diare, dan penyakit kulit menjangkiti warga Jakarta, terutama yang berada di pengungsian. Ini disebabkan keadaan sanitasi dan cuaca yang buruk
Ditemui pula beberapa kasus demam berdarah dan leptospirosis Sebagai akibat genangan air setelah banjir.

8. Pasca Banjir
Hingga hampir sepekan pascabanjir, 14 Februari 2007, 20 lampu lalu lintas di seluruh DKI Jakarta masih tidak berfungsi. Matinya lampu lalu lintas menyebabkan arus kendaraan di beberapa kawasan terganggu dan menimbulkan kemacetan. Di Jakarta Pusat lalu lintas di beberapa perempatan tidak dipandu lampu lalu lintas. Di kawasan Roxy, misalnya, lampu lalu lintas tidak berfungsi. Akibatnya, kemacetan terjadi sepanjang pagi hingga menjelang sore. Situasi serupa tampak di kawasan Kramat Bunder.

9. Banjir Susulan
Hujan deras sejak Selasa pagi, 13 Februari, di Depok dan sebagian wilayah Jakarta Selatan menyebabkan air kembali menggenangi sebagian rumah-rumah warga yang baru saja kering dari terpaan banjir pekan sebelumnya. Hujan tersebut menyebabkan Kali Krukut yang melintasi kawasan Kemang dan Petogogan, Jakarta Selatan meluap.
Luapan itu meluas dan menggenangi rumah-rumah warga di perkampungan tersebut hingga sebatas lutut orang dewasa. Kontur tanah perkampungan yang menjorok rendah ke arah sungai menyebabkan wilayah itu mudah sekali terbanjiri luapan air dari sungai. Di kawasan Kemang, tepatnya di Kelurahan Bangka, air menggenangi sekitar seratusan rumah petak di belakang deretan kafe-kafe elit di Jalan Kemang Raya. Semakin mendekati Kali Krukut, air sudah memasuki bagian dalam rumah hingga sebetis. Banjir besar pekan lalu telah menerpa kampung tersebut hingga ketinggian dua meter.
Banjir serupa juga kembali menimpa warga Perumahan Pondok Payung Mas, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat, Tangerang, Banten.
Hujan yang turun pada hari Sabtu 17 Februari menyebabkan sebanyak 2.761 warga Jakarta dari 612 kepala keluarga (KK), terpaksa mengungsi kembali karena rumah mereka tergenang air. Genangan ini terjadi di beberapa pemukiman di Pancoran, Kebayoran Baru, Jatinegara, dan Kramat Jati. Ketinggian genangan berkisar antara 40-120 cm.

10. Cara Mencegah Banjir:
• Tidak membuang sampah di sungai.
• Menghentikan penggundulan hutan.
• Melakukan penanaman.
• Membangun sumur/kolam peresapan.
• Menjaga paling sedikit 70 % kawasan pegunungan tertutup.

11. Tips Menghadapi Banjir :
• Selalu siap persediaan makanan cadangan di rumah .
• Setidaknya, bangunlah rumah yang terdiri dari 2 lantai .
• Pindahlah dari daerah pemukiman yang memang rawan banjir
• Siapkan selalu alat transportasi seperti perahu karet .







BAB III
Penutup
Kesimpulan
• Banjir ialah peristiwa tergenagnya daratan karena volume air yang meningkat.
• Banjir Jakarta disebabkan oleh hujan yang tinggi, dan musim hujan di Indonesia
• Penyebab banjir karena aktifitas manusia yang merusak alam dan curah hujan yang terus menerus
• Kerugian banjir merugikan manusia dan hewan.
• Cara mencegah banjir termasuk kesadaran manusia.













Daftar pustaka
http://afrahda.blogspot.com/2007/09/banjir.html
Maryono A. 2005. Menangani Banjir, Kekeringan, dan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
http://id. Wikipedia.org//wiki/Banjir_jakarta_2007/#Referensi











KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada bapak Sangsang Sangabakti yang membimbing saya pada matakuliah Bahasa Indonesia, dan juga tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang juga turut serta dalam menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu dan atas kerjasamanya yang sangat baik. Sehingga makalah ini dapat selesai dengan tepat.
Akhir kata saya ucapkan terimakasih kepada semua atas kerjasamanya, dan apabila ada kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini, saya sangat berterimakasih, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.










Daftar Isi

Kata Pengantar 1
Daftar Isi 2
Bab 1
Pendahuluan 3
1.1 Latar Balakang Masalah
1.2 Identifikasi Masalah 3
1.3 Pembahasan Masalah 4
1.4 Tujuan 4
1.5 Manfaat 4
BAB II
Pembahasan 5
BAB III
Penutup 10
Daftar Pustaka 11




BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang.
Banjir Jakarta 2007 adalah bencana banjir yang menghantam Jakarta dan sekitarnya sejak 1 Februari 2007 malam hari. Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari, ditambah banyaknya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang berasal dari Bogor-Puncak-Cianjur, dan air laut yang sedang pasang, mengakibatkan hampir 60% wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan kedalaman mencapai hingga 5 meter di beberapa titik lokasi banjir.
Pantauan di 11 pos pengamatan hujan milik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menunjukkan, hujan yang terjadi pada Jumat, 2 Februari, malam lalu mencapai rata-rata 235 mm, bahkan tertinggi di stasiun pengamat Pondok Betung mencapai 340 mm. Hujan rata-rata di Jakarta yang mencapai 235 mm itu sebanding dengan periode ulang hujan 100 tahun dengan probabilitas kejadiannya 20 persen.
Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit. Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007.

1.2 Identifikasi Masalah
Banjir di Jakarta merupakan fenomena yang setiap tahun terjadi. Banjir di Jakarta diperkirakan makin besar karena berbarengan dengan dengan datangnya banjir air pasang laut atau ROB.




1.3 Pembahasan Masalah
• Banjir dapat disebut dengan air bah. Banjir ialah suatu bencana air hujan yang menutupi daratan.
• Banjir juga bisa disebabkan oleh hujan muson terutama kawasan – kawasan yang terletak di daerah khatulistiwa.
• Dan badai juga bisa menyebabkan banjir melalui beberapa cara yaitu ombak besar yang tinggi nya mencapai 8 meter.
• Tsunami juga menyebabkan banjir pada daerah pesisir pantai,, gempa bumi dasar laut maupun letusan gunung berapi yang membuat kawah dapat memicu terjadinya tsunami.

1.4 Tujuan
Tujuan umum:
Agar masyarakat yang bertempat tinggal di daerah rawan banjir dapat mengantisipasi terjadinya banjir.
Tujuan khusus:
• Memberitahu kepada masyarakat tentang factor penyebab banjir
• Memberitahu kepada masyarakat tentang dampak dari banjir
• Memberitahu kepada masyarakat tentang cara penanggulangannya.
• Memberitahu kepada masyarakat tentang tips- tips menghadapi banjir.

1.5 Manfaat
Agar para pembaca dapat mengetahui penybab, antisipasi, dampak dan kerugian, dan pasca setelah bajir



BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian
Banjir adalah peristiwa tergenangnya daratan (yang biasa kering) karena volume air yang meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat karena hujan besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai.
Jakarta pada dasarnya memang rentan pada ancaman banjir, selain berlokasi di daerah datarn rendah bahkan sebagian lebih rendah dari permukaan laut, Jakrta juga di lewati 13 sungai yang semua bermuara di teluk Jakarta.
Faktor tinnginya curah huajn juga punya andil besar pda terjadinya banjir di Jakarta dan kawasan di sekitarnya. Resiko banjir semakin tinggi karena ketidakdisiplinan pemerintah dan warga dalam memelihara lingkungan. Pelanggaran tata ruang langsung atau tidak langsug ikut pula member sumbangan pada terjadinya banjir di Jakarta.
2. Penyebab
Banjir Jakarta 2007 merupakan salah satu contoh banjir yang besar di Indonesia. Penyebabnya adalah curah hujan yang tinggi, dan musim hujan di Indonesia mulai bulan Desember hingga akhir Maret. Intensitas hujan 2007 mencapai puncaknya pada bulan Februari, danintensitas terbesar pada akhir bulan.
3. Antisipasi
Untuk mencegah terjadinya banjir di Jakarta, pemerintah Jakarta telah membangun serangkaian system pengendali banjir Jakrta. . Berikut adalah Sistem Kawasan Pengendali Banjir dan Drainase Jakarta sampai 2010
Jakarta Utara
• Sunter Timur I
• Sunter Timur II
• Kelapa Gading
• Sunter Barat
• Sunter Selatan
• Pademangan
• Jembatan V
• Teluk Gong
• Angka Bawah
Jakarta Barat
• Jelambar
• Grogol
• Pinangsia
• Jati Pulo
• Kali Sekretaris
• S.P.Barat Jakarta Pusat
• Sawah Besar
• Sumur Batu
• Cideng Bawah
Jakarta Selatan
• Kali Grogol Atas
• Duren Tiga
• Pondok Karya
• Sangrila
Jakarta Timur
• Duren Sawit
• Cipinang Sistem Saluran Makro (13 sungai)
1. Kali Mookevart
2. Kali Angke
3. Kali Pesanggrahan
4. Kali Grogol
5. Kali Krukut
6. Kali Baru (Pasar Minggu)
7. Kali Ciliwung
8. Kali Baru Timur
9. Kali Cipinang
10. Kali Sunter
11. Kali Buara
12. Kali Jati Kramat
13. Kali Cakung
Banjir Kanal
1. Banjir Kanal Barat
2. Banjir Kanal Timur


4. Lokasi – Lokasi Banjir di Jakarta
• Jakrta Utara : Daerah Kelapa Gading, Penjaringan, Tanjung Priuk, Cilincing, dan Pademangan tingginya kira – kira mencapai 0,5 meter – 1,64 meter.
• Jakarta Timur : Jatinegara, Kramat Jati, Cakung, Duren Sawit, Pulo Gadung, Makasar, Matraman, Cipayung yang mencapai ketinggian kira – kira 0,2 meter – 2,5 meter
• Jakarta Barat : Kali Deres, Cengkareng, Kebun Jeruk, Taman Sari yang mencapai ketinngian 0,1 meter – 1 meter.
• Jakarta Selatan : Kebayoran Lama, Pesanggrahan, Bukit Duri, Kebayoran Baru, ketinngian mencapai 30 cm – 2,5 meter.
• Jakarta Pusat : Tanah Abang, Sawah Besar yang mencapai ketinggian 0,25 meter – 1,2 meter.


5. Korban
Hingga tanggal 8 Februari 2007, korban yang meninggal mencapai 55 orang. Pada tanggal 9 Februari korban yang meninggal meningkat mencapai 66 orang, dan pada tanggal 10 February korban semakin meningkat mencapia 80 orang. Jumlah ini mencangkup korban di tiga propinsi dengan perincian, Jakrta 48 Orang, Jawa Barat 19 Orang, dan Banten 13 orang.

6. Dampak dan Kerugian
Puluhan ribu warga di Jakarta dan daerah sekitarnya terpaksa mengungsi di posko-posko terdekat. Sebagian lainnya hingga Jumat malam masih terjebak di dalam rumah yang sekelilingnya digenangi air hingga 2-3 meter. Mereka tidak bisa keluar untuk menyelamatkan diri karena perahu tim penolong tidak kunjung datang.
Di dalam kota, kemacetan terjadi di banyak lokasi, termasuk di Jalan Tol Dalam Kota. Genangan-genangan air di jalan hingga semeter lebih juga menyebabkan sejumlah akses dari daerah sekitar pun terganggu.
Arus banjir menggerus jalan-jalan di Jakarta dan menyebabkan berbagai kerusakan yang memperparah kemacetan. Diperkirakan sebanyak 82.150 meter persegi jalan di seluruh Jakarta rusak ringan sampai berat. Kerusakan beragam, mulai dari lubang kecil dan pengelupasan aspal sampai lubang-lubang yang cukup dalam. Kerusakan yang paling parah terjadi di Jakarta Barat, tempat jalan rusak mencapai 22.650 m², disusul Jakarta Utara (22.520 m²), Jakarta Pusat (16.670 m²), Jakarta Timur (11.090 m²). Kerusakan jalan paling ringan dialami Jakarta Timur, yang hanya menderita jalan rusak seluas 9.220 m². Untuk merehabilitasi jalan diperkirakan diperlukan dana sebesar Rp. 12 miliar.
Banjir juga membuat sebagian jalur kereta api lumpuh. Lintasan kereta api yang menuju Stasiun Tanah Abang tidak berfungsi karena jalur rel di sekitar stasiun itu digenangi air luapan Sungai Ciliwung sekitar 50 sentimeter.
Sekitar 1.500 rumah di Jakarta Timur hanyut dan rusak akibat banjir. Kerusakan terparah terdapat di Kecamatan Jatinegara dan Cakung. Rumah-rumah yang hanyut terdapat di Kampung Melayu (72 rumah), Bidaracina (5), Bale Kambang (15), Cawang (14), dan Cililitan (5). Adapun rumah yang rusak terdapat di Pasar Rebo (14), Makasar (49), Kampung Melayu (681), Bidaracina (16), Cipinang Besar Selatan (50), Cipinang Besar Utara (3), Bale Kambang (42), Cawang (51), Cililitan (10), dan Cakung (485).
Kerugian di Kabupaten Bekasi diperkirakan bernilai sekitar Rp 551 miliar. Kerugian terbesar adalah kerusakan bangunan, baik rumah penduduk maupun kantor-kantor pemerintah. Selain itu jalan kabupaten sepanjang 98 kilometer turut rusak. Sedikitnya 7.400 hektar sawah terancam puso.
7. Penyakit
Setelah banjir penyakit infeksi saluran pernafasan, diare, dan penyakit kulit menjangkiti warga Jakarta, terutama yang berada di pengungsian. Ini disebabkan keadaan sanitasi dan cuaca yang buruk
Ditemui pula beberapa kasus demam berdarah dan leptospirosis Sebagai akibat genangan air setelah banjir.

8. Pasca Banjir
Hingga hampir sepekan pascabanjir, 14 Februari 2007, 20 lampu lalu lintas di seluruh DKI Jakarta masih tidak berfungsi. Matinya lampu lalu lintas menyebabkan arus kendaraan di beberapa kawasan terganggu dan menimbulkan kemacetan. Di Jakarta Pusat lalu lintas di beberapa perempatan tidak dipandu lampu lalu lintas. Di kawasan Roxy, misalnya, lampu lalu lintas tidak berfungsi. Akibatnya, kemacetan terjadi sepanjang pagi hingga menjelang sore. Situasi serupa tampak di kawasan Kramat Bunder.

9. Banjir Susulan
Hujan deras sejak Selasa pagi, 13 Februari, di Depok dan sebagian wilayah Jakarta Selatan menyebabkan air kembali menggenangi sebagian rumah-rumah warga yang baru saja kering dari terpaan banjir pekan sebelumnya. Hujan tersebut menyebabkan Kali Krukut yang melintasi kawasan Kemang dan Petogogan, Jakarta Selatan meluap.
Luapan itu meluas dan menggenangi rumah-rumah warga di perkampungan tersebut hingga sebatas lutut orang dewasa. Kontur tanah perkampungan yang menjorok rendah ke arah sungai menyebabkan wilayah itu mudah sekali terbanjiri luapan air dari sungai. Di kawasan Kemang, tepatnya di Kelurahan Bangka, air menggenangi sekitar seratusan rumah petak di belakang deretan kafe-kafe elit di Jalan Kemang Raya. Semakin mendekati Kali Krukut, air sudah memasuki bagian dalam rumah hingga sebetis. Banjir besar pekan lalu telah menerpa kampung tersebut hingga ketinggian dua meter.
Banjir serupa juga kembali menimpa warga Perumahan Pondok Payung Mas, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat, Tangerang, Banten.
Hujan yang turun pada hari Sabtu 17 Februari menyebabkan sebanyak 2.761 warga Jakarta dari 612 kepala keluarga (KK), terpaksa mengungsi kembali karena rumah mereka tergenang air. Genangan ini terjadi di beberapa pemukiman di Pancoran, Kebayoran Baru, Jatinegara, dan Kramat Jati. Ketinggian genangan berkisar antara 40-120 cm.

10. Cara Mencegah Banjir:
• Tidak membuang sampah di sungai.
• Menghentikan penggundulan hutan.
• Melakukan penanaman.
• Membangun sumur/kolam peresapan.
• Menjaga paling sedikit 70 % kawasan pegunungan tertutup.

11. Tips Menghadapi Banjir :
• Selalu siap persediaan makanan cadangan di rumah .
• Setidaknya, bangunlah rumah yang terdiri dari 2 lantai .
• Pindahlah dari daerah pemukiman yang memang rawan banjir
• Siapkan selalu alat transportasi seperti perahu karet .







BAB III
Penutup
Kesimpulan
• Banjir ialah peristiwa tergenagnya daratan karena volume air yang meningkat.
• Banjir Jakarta disebabkan oleh hujan yang tinggi, dan musim hujan di Indonesia
• Penyebab banjir karena aktifitas manusia yang merusak alam dan curah hujan yang terus menerus
• Kerugian banjir merugikan manusia dan hewan.
• Cara mencegah banjir termasuk kesadaran manusia.













Daftar pustaka
http://afrahda.blogspot.com/2007/09/banjir.html
Maryono A. 2005. Menangani Banjir, Kekeringan, dan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
http://id. Wikipedia.org//wiki/Banjir_jakarta_2007/#Referensi